Senin, 13 Februari 2012

Perasaan Lain di Hari Minggu

Bagi kebanyakan orang, hari Minggu merupakan hari yang paling menyenangkan. Di hari itu banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari bangun siang, bersih – bersih rumah, jalan – jalan bersama keluarga, menonton tv sepuasnya, masak ria di dapur tercinta, dan masih banyak lagi yang mungkin bisa dilakukan.

Namun, tidak begitu dengan yang aku alami saat ini. Saat hari libur tiba, khususnya hari Minggu, justru perasaan cemas yang aku rasakan. Sebenarnya tidak ada masalah dengan hari apapun, hanya saja di hari Minggu atau hari libur justru aku tidak merasakan suatu kebahagiaan, kebebasan. Mungkin bagi yang tidak mengalaminya, hal ini justru menjadi suatu hal yang aneh. Hari libur atau hari Minggu (bagi yang libur di hari Minggu) biasanya sudah didambakan oleh kebanyakan orang. Mereka bisa melepas kepenatan dan kesibukan dalam pekerjaan walaupun bisa dibilang hanya sesaat karena esok hari “Senin menanti”. Namun hal itu sudah cukup untuk bisa refreshing. Tanpa hari libur tentu saja kita akan akan merasa lelah, baik secara fisik maupun pikiran, bahkan untuk para “workaholic sekalipun”.

Kembali ke topik awal. Pada hari Minggu ini justru aku ingin segera melewatinya. Aku lebih suka menjalani hari Senin hingga Jumat (walau tidak sepenuhnya begitu). Tapi setidaknya dalam 5 hari tersebut aku lebih “bebas bertindak” tanpa rasa tidak enak atau semacamnya. Dalam 5 hari tersebut, setidaknya aku hanya bertatap muka dengannya setelah Maghrib hingga jam 6 pagi. Sedangkan untuk hari Sabtu, sedikit lebih nyaman dibandingkan hari Minggu. Walau bagaimanapun, itu adalah rumahnya dan statusku hanya “numpang tinggal”.

Kondisi ini pasti akan berbeda jika aku sedang berada di rumah sendiri. Bagaimanapun, rumah sendiri adalah tempat yang paling nyaman. Kita bebas melakukan apapun, bisa diibaratkan seperti itu menurutku. Sedangkan di tempat ini ada rasa canggung, tidak enak, sungkan, dan masih banyak lagi hingga sulit diungkapkan dengan kata – kata. Aku masih bertahan di sini karena ada beberapa alasan juga. Seandainya dari awal aku tidak di sini, ah tapi aku tidak boleh mengatakan hal itu. Di sini aku bisa berlindung dari sengatan sinar matahari, hujan, badai, banjir, dan tentu saja ada teman bicara, setidaknya itu yang kurasakan saat awal – awal berada di sini. Semua harus dan wajib disyukuri.

Aku tidak tahu apakah keputusan untuk tinggal di sini adalah keputusan yang tepat atau tidak. Namun, untuk segera meninggalkan tempat ini pun masih menjadi dilema bagiku. Aku belum bisa bersikap tegas, belum bisa berpikir jernih, seimbang antara logika dan perasaan. Di satu sisi, aku ingin segera pindah dan mencari tempat tinggal baru. Tempat di mana aku tidak perlu merepotkannya lagi, merepotkan siapapun lagi. Bagaimanapun, keberadaanku di sini memang semakin menambah beban dalam kehidupannya. Sedangkan di sisi lain, aku takut hal ini menyinggung perasaannya dan takut buntut ke belakangnya setelah kepindahanku karena aku belum menemukan alasan yang tepat untuk segera pindah. Aku juga belum berani untuk menyampaikan niat pindahku ini padanya karena komunikasi yang sangat terbatas diantara kami.

Walaupun setiap hari bertemu namun hubungan kami belum bisa dibilang dekat atau bahkan akrab. Kami semakin jarang berbincang – bincang, dia juga hanya menyapaku seperlunya. Ketika awal – awal tinggal di sini, kurang lebih 14 hari pertama, dia masih tampak ramah dan asyik. Dia sering mengajakku ngobrol, tanya ini itu, bersikap cukup hangat menurutku. Itulah alasan kenapa aku menerima tawaran untuk tinggal di rumahnya. Namun, setelah kembalinya lagi aku ke sini (baca: mudik 2 minggu), sikapnya mulai berubah. Entah apa yang menyebabkan hal itu. Dengan sikapnya yang seperti itu, aku juga tidak bisa bersikap supel lagi. Bukan berarti aku membalas sikapnya, tapi aku merasa takut. Takut untuk mengajaknya ngobrol, takut bertanya ini itu, takut melakukan hal – hal yang mungkin tidak disukainya.

Aku berusaha untuk tetap bersikap biasa saja, selalu berusaha tersenyum di depannya, walaupun memang aku tidak mengajaknya ngobrol. Seperti yang sudah aku katakan, hal itu aku lakukan karena merasa canggung dan takut padanya. Sesekali aku menimbrung pembicaraannya dengan anaknya dan juga menanyakan ini itu. Namun tanggapannya begitu dingin. Itulah yang aku tangkap dan aku rasakan. Entah karena aku orang yang perasa atau memang seperti itu adanya, atau karena dia yang telalu lelah sepulang kerja, atau mungkin juga aku yang tidak bisa memahaminya. Entahlah, itu semua hanya praduga. Walaupun aku berusaha untuk khusnudzon tapi suudzonku seringkali muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar